Sabtu, 13 Desember 2008

Sisi Lain Memilih SMK

Empat tahun terakhir, pemerintah kita sangat gencar mempromosikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Bahkan di beberapa kota, seperti Surabaya misalnya, pemerintahnya telah menerapkan kebijakan pembebasan uang sekolah (SPP) kepada mereka yang mengambil keputusan untuk sekolah di SMK. Tujuan pemerintah secara gencar mempromosikan SMK adalah menstimulasi minat generasi muda untuk lebih memilih masuk SMK dibanding sekolah umum, disamping menyadarkan masyarakat bahwa SMK bukan sekolah yang secara level lebih rendah dibandingkan dengan Sekolah Umum.
Selama ini SMK dianggap sebagai sekolah yang mencirikan dari mana kelas sosial para murid tersebut berasal. Dulu, para orang tua yang menyekolahkan anak-anak di SMK adalah mereka yang berasal dari kelas sosial menengah bawah. Karena memang para orang tua ini berharap anak-anak dapat memperoleh pekerjaan secepatnya dan membantu meringankan beban orang tua. Dengan berjalannya waktu, perilaku seperti ini membentuk persepsi yang salah, sehingga sampai suatu ketika, kebanyakan orang tua dan anak-anak "gengsi", jika harus memilih SMK. Sebab nanti mereka akan dipersepsikan sebagai "orang miskin" dan bahkan tak punya kelas sosial. Akan lebih memiliki "kelas" dan menjadi "diterima" bergaul di berbagai kalangan, apabila anak-anak bersekolah di sekolah umum, bukan kejuruan.
Dalam perkembangannya, fakta menunjukkan tingkat pengangguran yang cukup tinggi dari kalangan lulusan SLTA dan lulusan perguruan tinggi, yang tidak memiliki skill dan kompetensi yang mumpuni. Oleh karenanya, mereka tidak siap bekerja atau tidak dapat memenuhi kualifikasi yang diinginkan oleh perusahaan. Disinilah kemudian pemerintah mengambil sikap untuk mengangkat nama SMK ke permukaan, karena memang senyatanya, para lulusan SMK lebih bisa diandalkan dalam hal ketrampilan, kompetensi dan kesiapannya untuk bekerja sesuai bidang yang diminatinya. Sampai-sampai, upaya pengangkatan nama SMK ini dilakukan dengan melibatkan para artis dan pengusaha yang mengaku lulusan SMK dan telah berhasil dalam kehidupannya.
Memang, dengan memilih SMK, hampir dapat dipastikan, para murid akan terbekali skill dan kompetensi sesuai dengan yang diminatinya. Begitu lulus dari SMK, dengan skill dan kompetensi yang mumpuni, mereka menjadi lebih siap bekerja dibandingkan dengan mereka yang lulusan sekolah umum (non kejuruan).
Para lulusan SMK lebih siap bekerja dibandingkan dengan mereka yang lulusan sekolah umum, karena memang para siswa SMK dipersiapkan dengan spesialisasi masing-masing (teknik mesin, teknik listrik,teknik informatika, mekanik,otomotif, akunting, manajemen, administrasi,musik&sen, hotel&pariwisata, tata busana, tata boga dll.)
Persoalannya kemudian adalah bagaimana para pengusaha yang nota bene adalah sebagai pengguna atau user dari para lulusan SMK ini merespon para lulusan yang telah memiliki skill dan kompetensi ini? Apakah para user ini "berani" bersikap jujur, adil/fair terhadap mereka dalam hal pemberian kompensasi?
Senyatanya, memang, para lulusan SMK lebih mudah memperoleh pekerjaan dengan skill yang mumpuni. Namun ini tidak berarti bahwa lebih mudah pula bagi mereka untuk "menyembuhkan" penyakit "unfairness", yang dimiliki oleh kebanyakan para user, dalam hal perolehan kompensasi. Bagaimana mereka, para lulusan SMK diperlakukan di dunia usaha? Berapa kompensasi yang layak dan fair bagi mereka, ketika mereka sudah menjadi karyawan? Agaknya ini sangat perlu campur tangan pemerintah dan kesadaran dari kebanyakan pengusaha sebagai user mereka.
Faktanya di lapangan, ketika anak-anak ini bekerja dan membaur dengan para pemegang ijazah diploma dan sarjana yang juga sama-sama fresh graduated (baru lulus), kemenonjolan atau kelebihan skill dan kompetensi mereka sama sekali tak berkorelasi dengan kompensasi yang diterima. Mereka tetap saja menjadi termarjinalkan dalam hal kompensasi, karena, meskipun mereka lebih terampil dan kompeten, kesalahan terbesar mereka adalah mereka "datang dari SMK".
Sebagai ilustrasi adalah perusahaan "X", yang bergerak dalam bidang "digital printing". Inti bisnis ini adalah bisnis jasa editing photo dan desain banner atau apapun yang merupakan materi periklanan.Dengan demikian, ini adalah ranah mereka yang terampil di bidang multimedia. Oleh karenanya, karyawan inti yang paling relevan adalah lulusan SMK teknik informatika jurusan multi media dan desain grafis. Mereka adalah pemegang peran utama dalam kegiatan/aktivitas bisnis perusahaan, sementara yang lainnya (seperti administrasi, pemasaran dan umum) adalah pendukung. Namun apa yang terjadi di lapangan adalah justru suatu tindakan yang unfairness dalam hal pemberian kompensasi. Kebanyakan user masih saja menggunakan standar yang sudah kadaluarsa. Mereka ini belum bersedia memberikan kompensasi secara proporsional dan fair, tapi justru masih memegang teguh aturan main yang sudah usang, yakni, berapa standar gaji lulusan SLTA, berapa standar gaji lulusan diploma dan berapa standar gaji lulusan perguruan tinggi (sarjana). Tetap saja, lulusan diploma dan sarjana akan memperoleh gaji yang lebih tinggi, meskipun secara nyata porsi beban pekerjaan lebih besar adalah dilakukan oleh anak-anak lulusan SMK yang jauh lebih terampil dan jauh lebih kompeten di bidangnya. Inilah ketimpangannya!
Betapapun anak-anak ini sudah jauh lebih terampil dan lebih kompeten di bidangnya dibanding dengan para fresh graduated dari diploma dan S1, mereka tetap saja ada di level bawah, level yang tak dipertimbangkan. Karena standar yang digunakan kebanyakan user mereka, masih standar usang berdasarkan jenjang pendidikan.
Sekali lagi, memperoleh pekerjaan memang lebih mudah bagi para lulusan SMK, namun tidak berarti lebih mudah juga untuk mengangkat "kelas" mereka, agar menjadi lebih berharga di mata siapapaun.
Sepintas memang menyenangkan jika mengamati iklan lowongan pekerjaan di media massa, karena mereka, para user kebanyakan lebih menyukai memilih lulusan SMK dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi. Namun, apakah sebenarnya yang ada dibalik semua ini? Mengapa para user lebih menyukai lulusan SMK?
Jelas hal ini menguntungkan secara finansial bagi mereka. Mereka memperoleh karyawan (para lulusan SMK) yang secara riil jauh lebih terampil dan kompeten dibanding mereka yang fesh graduated diploma dan S1,dengan harga yang murah meriah. Karena standar gaji anak-anak, para lulusanSMK ini tak pernah ditinjau kembali untuk diangkat dan dipertimbangkan kelayakannya. Bisakah pemerintah melengkapi gencarnya promosi SMK ini dengan program baru pencanangan standar gaji untuk para lulusan SMK, yang terampil dan kompeten? Sehingga menjadi lebih fair ? Wallohu'alam !

Sabtu, 06 Desember 2008

Membangun Sukses Hingga Akhir

Saya terkejut begitu mendengar berita bahwa ketika suatu saat diadakan sidak alat timbangan yang digunakan untuk berdagang, dari sejumlah 50 pedagang di sebuah pasar tradisional, hanya ada satu pedagang saja yang alat timbangannya dinyatakan memenuhi syarat. Sisanya harus ditera ulang. Dalam hati saya berkata ‘gejala apakah ini’? Kejujuran makin lama makin langka saja. Bagi umat Islam, tentu saja sangat tahu persis akan hukum yang dijanjikan Allah soal ‘mencuri timbangan’.
Terlepas dari kesengajaan ataupun ketidaksengajaan para pedagang tersebut, saya hanya ingin berbagi sesuatu. Sesuatu tersebut adalah, bagaimana membangun kesuksesan, sehingga menjadi sosok yang dapat meraih sukses di awal, di tengah dan di akhir.
Berbicara soal timbangan, satu-satunya alasan mengapa orang kemudian mencuri timbangan adalah mereka ingin memperoleh keuntungan dengan mudah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Disadari atau tidak, mencuri timbangan merugikan orang lain. Jika sekali timbang, berhasil mengelabuhi berat sejumlah satu ons, maka untuk sejumlah 20 pembeli, dalam sehari bisa menghasilkan dua kilogram barang curian. Dalam sebulan, bisa terkumpul sejumlah 60 kg, dalam setahun sejumlah 720 kg atau 7,2 kw. Itu hanya untuk kasus satu pedagang, padahal dalam satu pasar tersebut, hanya terdapat satu saja pedagang yang jujur, dalam arti bahwa alat timbangannya dinyatakan “OK”, oleh penyidak.
Pencurian berat timbangan, mungkin akan menguntungkan kita dan dalam waktu yang singkat, materi kita dapat terkumpul. Apalagi masyarakat sekitar, memang lebih suka mengukur kesuksesan dari sisi materi yang kita miliki dan yang tampak dilihat oleh mereka. Ketika kita mulai sesuatu, kita berdoa, kita optimis dengan Bismillah, Allah akan menolong kita memulai kegiatan.
Ibarat orang menanam pohon mangga, pertama yang dilakukan adalah menanam bibit mangga, harus disiram, disiangi dan dipupuk, sehingga sang mangga menjadi tumbuh besar dan hijau subur.
Dalam kasus pedagang di pasar tersebut, maka makin banyaknya pelanggan yang datang karena kejujuran kita, ini dapat dimaknakan bahwa mangga yang kita tanam, kita siangi dan kita pupuk serta kita sirami, telah berhasil tumbuh subur. Inilah yang dimaksud kesuksesan di awal. Pada tahap berikutnya, kita harus tetap meluangkan waktu dan energi untuk menjaga dan melindungi sang mangga, hingga ia menghasilkan buah seperti yang kita harapkan. Dalam kasus pedangang di pasar, maka ketahanan diri kita dalam menepis godaan untuk mencuri timbangan dan tetap bertahan untuk menjadi pribadi yang jujur, inilah yang dinamakan kesuksesan di tengah. Selanjutnya, ketika buah mangga tersebut dapat kita nikmati, bahkan kita jadikan komoditas yang lebih mempunyai nilai jual, dapat berperan dalam kehidupan ekonomi masyarakat, yang bahkan bijinya pun bisa ditanam kembali untuk regenerasi. Alangkah indahnya. Lantas bagaimana dengan kasus pedagang tersebut?
Ketika kita menganggap bahwa kita sudah sukses, sementara hari-hari kita hanya menumpuk barang curian dari mengelabuhi pembeli melalui mencuri timbangan, yang sebenarnya adalah kita menuju kehancuran. Sukses yang sebenar-benarnya sukses, belum dapat kita jawab sekarang. Ketika hakim tertinggi Allah SWT mengadili kita nanti, dan menetapkan pada surga yang mana kita ditempatkan, barulah kita boleh mengatakan bahwa kita sukses. Itulah sukses di akhir.
Orientasi untuk mencapai kesuksesan yang langgeng, adalah orientasi untuk menjadi sukses di akhir. Apalah artinya, dunia menilai kita sukses, tapi dalam lubuk hati yang paling dalam kita mengetahui ketidakjujuran yang kita lakukan terus menerus. Sungguh sangat mengerikan apabila, kesuksesan kita di awal dan di tengah (versi duniawi), pada akhirnya bermuara pada kegagalan menjadi tamu agung Allah SWT, yang berarti juga kegagalan masuk dalam surga Allah. Naudzubillahimindzalik.

Mengapa Rambut Tak Boleh Gondrong?

Mengapa Rambut Tak Boleh Gondrong?
Ini adalah pertanyaan anak lelakiku. Selama 3 tahun menempuh SLTA, pertanyaan ini selalu menjadi bahan perdebatan di antara kami, baik di meja makan, di teras rumah, maupun di perjalanan jika kami sedang berjalan-jalan.
Aku sudah berusaha menjelaskan bahwa kebanyakan orang risih melihat rambut gondrong. Dia bilang “tapi ma, aku nggak usah dilihat, juga nggak apa-apa”. Aku juga sudah menjelaskan, bahwa itu adalah bagian dari disiplin sekolah. Anakku menjawab lagi dengan pertanyaan, “aku nggak ngerti, disiplin seperti itu bertujuan apa? Agar apa? para guru juga tak pernah bisa menjelaskan hubungan antara rambut gondrong dengan prestasi di sekolah.
Apakah kegondrongan dapat mempengaruhi prestasi belajar atau produktivitas siswa? Ini pun tidak pernah jelas.
Akhirnya, karena sudah lelah dikejar pertanyaan, aku ‘memerintahkan’ anakku, agar untuk sementara, masuk saja pada dunia yang ia anggap sebagai dunia penuh kekonyolan.“Pokoknya, yang penting kamu selesaikan UNAS, kamu bebas!”
Dalam pandangan anakku, ini adalah hal yang konyol, karena dalam banyak buku dan informasi yang ditemukan, para ilmuwan jaman dahulu seperti Einstein, Thomas Alfa Edison dll., tak ada yang tidak gondrong, toh penemuan mereka justru me_legenda dan diagung-agungkan oleh dunia. Tidak ada jalan lain kecuali mengalah dan ikut arus peraturan sekolah.
Ketika lulus SLTA, ternyata dia masuk ke dalam “jebakan” lain, yang menurutnya lebih konyol dari sebelumnya. Tiga tahun dia memendam keinginannya untuk membiarkan rambutnya tumbuh tanpa dipotong, namun pada akhirnya dia masuk pada Lembaga Pendidikan yang menerapkan aturan yang sama dengan aturan sekolahnya pada waktu SLTA dulu. “Mengantar mahasiswa memperoleh pekerjaan dalam waktu yang singkat dan mendidik mahasiswa menjadi sosok profesional sejati”, inilah motto tempat anakku berkuliah. Menurut jajaran manajemen kampus, penampilan profesional adalah penampilan rapih, baju lengan panjang berdasi, celana kain, bersepatu pantovel dan rambut tak boleh gondrong. Melanggar aturan itu semua, lihat saja.. akan menimbulkan kendala memperoleh pekerjaan. Anakku bilang, "ini lebih konyol lagi!", sehingga diputuskanlah untuk mencari pekerjaan dan menjadi profesional agar dia dapat membuktikan keyakinannya bahwa kegondrongan tak ada hubungannya dengan perolehan pekerjaan.
Maka ketika sekali melamar dan ia diterima bekerja sesuai dengan bidang yang diminati dan ditekuninya selama ini, ia putuskan untuk keluar dari kampus yang menurutnya “konyol” tersebut. Dalam perjalanan kerjanya, kawan-kawannya merayunya untuk kembali ke kampus. Anakku bilang “tujuanku kuliah di sana adalah ingin cepat memperoleh pekerjaan, kan kampus berpendapat bahwa rambut gondrong tak akan mudah memperoleh pekerjaan, sekarang aku sudah buktikan bahwa aturan ini konyol”.
Hingga sekarang, aku juga berfikir keras, apakah sebenarnya ada korelasi antara kegondrongan dan produktivitas atau prestasi seseorang? Sering anakku bertanya mengapa dia dicap sebagai egois hanya karena soal rambut. Aku juga tidak bisa menjawab. Yang dapat aku lakukan hanyalah menganjurkan agar dia tidak usah melawan pendapat banyak orang yang kemudian hanya akan menyakiti orang lain saja, menasehatinya agar ia menjadi orang yang baik dan terus menerus memperbaiki diri. Aku menyarankan agar setiap hari dia berupaya untuk menjadi lebih baik lagi. Aku juga sedang belajar dari dia, belajar menghargai pendapat dan keputusannya. Aku ijinkan dia untuk menemukan komunitas yang sesuai dengan hati dan nuraninya daripada ia menghabiskan waktu dan energinya untuk sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya, asal ia tetap pada koridor keimanannya.
Kebanyakan orang memang tak dapat menejelaskan hal ini (hubungan antara rambut gondrong dan prestasi atau produktivitas) hingga memuaskan dan masuk di akal. Oleh karenanya, cara satu-satunya adalah tidak masuk ke dalam komunitas yang menolak, kemudian berusaha mencari dan menemukan komunitas yang sesuai. Agar hidup menjadi lebih mudah, menjadi lebih bisa berkarya dan menjadi lebih bermakna.