Saya terkejut begitu mendengar berita bahwa ketika suatu saat diadakan sidak alat timbangan yang digunakan untuk berdagang, dari sejumlah 50 pedagang di sebuah pasar tradisional, hanya ada satu pedagang saja yang alat timbangannya dinyatakan memenuhi syarat. Sisanya harus ditera ulang. Dalam hati saya berkata ‘gejala apakah ini’? Kejujuran makin lama makin langka saja. Bagi umat Islam, tentu saja sangat tahu persis akan hukum yang dijanjikan Allah soal ‘mencuri timbangan’.
Terlepas dari kesengajaan ataupun ketidaksengajaan para pedagang tersebut, saya hanya ingin berbagi sesuatu. Sesuatu tersebut adalah, bagaimana membangun kesuksesan, sehingga menjadi sosok yang dapat meraih sukses di awal, di tengah dan di akhir.
Berbicara soal timbangan, satu-satunya alasan mengapa orang kemudian mencuri timbangan adalah mereka ingin memperoleh keuntungan dengan mudah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Disadari atau tidak, mencuri timbangan merugikan orang lain. Jika sekali timbang, berhasil mengelabuhi berat sejumlah satu ons, maka untuk sejumlah 20 pembeli, dalam sehari bisa menghasilkan dua kilogram barang curian. Dalam sebulan, bisa terkumpul sejumlah 60 kg, dalam setahun sejumlah 720 kg atau 7,2 kw. Itu hanya untuk kasus satu pedagang, padahal dalam satu pasar tersebut, hanya terdapat satu saja pedagang yang jujur, dalam arti bahwa alat timbangannya dinyatakan “OK”, oleh penyidak.
Pencurian berat timbangan, mungkin akan menguntungkan kita dan dalam waktu yang singkat, materi kita dapat terkumpul. Apalagi masyarakat sekitar, memang lebih suka mengukur kesuksesan dari sisi materi yang kita miliki dan yang tampak dilihat oleh mereka. Ketika kita mulai sesuatu, kita berdoa, kita optimis dengan Bismillah, Allah akan menolong kita memulai kegiatan.
Ibarat orang menanam pohon mangga, pertama yang dilakukan adalah menanam bibit mangga, harus disiram, disiangi dan dipupuk, sehingga sang mangga menjadi tumbuh besar dan hijau subur.
Dalam kasus pedagang di pasar tersebut, maka makin banyaknya pelanggan yang datang karena kejujuran kita, ini dapat dimaknakan bahwa mangga yang kita tanam, kita siangi dan kita pupuk serta kita sirami, telah berhasil tumbuh subur. Inilah yang dimaksud kesuksesan di awal. Pada tahap berikutnya, kita harus tetap meluangkan waktu dan energi untuk menjaga dan melindungi sang mangga, hingga ia menghasilkan buah seperti yang kita harapkan. Dalam kasus pedangang di pasar, maka ketahanan diri kita dalam menepis godaan untuk mencuri timbangan dan tetap bertahan untuk menjadi pribadi yang jujur, inilah yang dinamakan kesuksesan di tengah. Selanjutnya, ketika buah mangga tersebut dapat kita nikmati, bahkan kita jadikan komoditas yang lebih mempunyai nilai jual, dapat berperan dalam kehidupan ekonomi masyarakat, yang bahkan bijinya pun bisa ditanam kembali untuk regenerasi. Alangkah indahnya. Lantas bagaimana dengan kasus pedagang tersebut?
Ketika kita menganggap bahwa kita sudah sukses, sementara hari-hari kita hanya menumpuk barang curian dari mengelabuhi pembeli melalui mencuri timbangan, yang sebenarnya adalah kita menuju kehancuran. Sukses yang sebenar-benarnya sukses, belum dapat kita jawab sekarang. Ketika hakim tertinggi Allah SWT mengadili kita nanti, dan menetapkan pada surga yang mana kita ditempatkan, barulah kita boleh mengatakan bahwa kita sukses. Itulah sukses di akhir.
Orientasi untuk mencapai kesuksesan yang langgeng, adalah orientasi untuk menjadi sukses di akhir. Apalah artinya, dunia menilai kita sukses, tapi dalam lubuk hati yang paling dalam kita mengetahui ketidakjujuran yang kita lakukan terus menerus. Sungguh sangat mengerikan apabila, kesuksesan kita di awal dan di tengah (versi duniawi), pada akhirnya bermuara pada kegagalan menjadi tamu agung Allah SWT, yang berarti juga kegagalan masuk dalam surga Allah. Naudzubillahimindzalik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar