Mengapa Rambut Tak Boleh Gondrong?
Ini adalah pertanyaan anak lelakiku. Selama 3 tahun menempuh SLTA, pertanyaan ini selalu menjadi bahan perdebatan di antara kami, baik di meja makan, di teras rumah, maupun di perjalanan jika kami sedang berjalan-jalan.
Ini adalah pertanyaan anak lelakiku. Selama 3 tahun menempuh SLTA, pertanyaan ini selalu menjadi bahan perdebatan di antara kami, baik di meja makan, di teras rumah, maupun di perjalanan jika kami sedang berjalan-jalan.
Aku sudah berusaha menjelaskan bahwa kebanyakan orang risih melihat rambut gondrong. Dia bilang “tapi ma, aku nggak usah dilihat, juga nggak apa-apa”. Aku juga sudah menjelaskan, bahwa itu adalah bagian dari disiplin sekolah. Anakku menjawab lagi dengan pertanyaan, “aku nggak ngerti, disiplin seperti itu bertujuan apa? Agar apa? para guru juga tak pernah bisa menjelaskan hubungan antara rambut gondrong dengan prestasi di sekolah.
Apakah kegondrongan dapat mempengaruhi prestasi belajar atau produktivitas siswa? Ini pun tidak pernah jelas.
Akhirnya, karena sudah lelah dikejar pertanyaan, aku ‘memerintahkan’ anakku, agar untuk sementara, masuk saja pada dunia yang ia anggap sebagai dunia penuh kekonyolan.“Pokoknya, yang penting kamu selesaikan UNAS, kamu bebas!”
Dalam pandangan anakku, ini adalah hal yang konyol, karena dalam banyak buku dan informasi yang ditemukan, para ilmuwan jaman dahulu seperti Einstein, Thomas Alfa Edison dll., tak ada yang tidak gondrong, toh penemuan mereka justru me_legenda dan diagung-agungkan oleh dunia. Tidak ada jalan lain kecuali mengalah dan ikut arus peraturan sekolah.
Ketika lulus SLTA, ternyata dia masuk ke dalam “jebakan” lain, yang menurutnya lebih konyol dari sebelumnya. Tiga tahun dia memendam keinginannya untuk membiarkan rambutnya tumbuh tanpa dipotong, namun pada akhirnya dia masuk pada Lembaga Pendidikan yang menerapkan aturan yang sama dengan aturan sekolahnya pada waktu SLTA dulu. “Mengantar mahasiswa memperoleh pekerjaan dalam waktu yang singkat dan mendidik mahasiswa menjadi sosok profesional sejati”, inilah motto tempat anakku berkuliah. Menurut jajaran manajemen kampus, penampilan profesional adalah penampilan rapih, baju lengan panjang berdasi, celana kain, bersepatu pantovel dan rambut tak boleh gondrong. Melanggar aturan itu semua, lihat saja.. akan menimbulkan kendala memperoleh pekerjaan. Anakku bilang, "ini lebih konyol lagi!", sehingga diputuskanlah untuk mencari pekerjaan dan menjadi profesional agar dia dapat membuktikan keyakinannya bahwa kegondrongan tak ada hubungannya dengan perolehan pekerjaan.
Maka ketika sekali melamar dan ia diterima bekerja sesuai dengan bidang yang diminati dan ditekuninya selama ini, ia putuskan untuk keluar dari kampus yang menurutnya “konyol” tersebut. Dalam perjalanan kerjanya, kawan-kawannya merayunya untuk kembali ke kampus. Anakku bilang “tujuanku kuliah di sana adalah ingin cepat memperoleh pekerjaan, kan kampus berpendapat bahwa rambut gondrong tak akan mudah memperoleh pekerjaan, sekarang aku sudah buktikan bahwa aturan ini konyol”.
Hingga sekarang, aku juga berfikir keras, apakah sebenarnya ada korelasi antara kegondrongan dan produktivitas atau prestasi seseorang? Sering anakku bertanya mengapa dia dicap sebagai egois hanya karena soal rambut. Aku juga tidak bisa menjawab. Yang dapat aku lakukan hanyalah menganjurkan agar dia tidak usah melawan pendapat banyak orang yang kemudian hanya akan menyakiti orang lain saja, menasehatinya agar ia menjadi orang yang baik dan terus menerus memperbaiki diri. Aku menyarankan agar setiap hari dia berupaya untuk menjadi lebih baik lagi. Aku juga sedang belajar dari dia, belajar menghargai pendapat dan keputusannya. Aku ijinkan dia untuk menemukan komunitas yang sesuai dengan hati dan nuraninya daripada ia menghabiskan waktu dan energinya untuk sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya, asal ia tetap pada koridor keimanannya.
Kebanyakan orang memang tak dapat menejelaskan hal ini (hubungan antara rambut gondrong dan prestasi atau produktivitas) hingga memuaskan dan masuk di akal. Oleh karenanya, cara satu-satunya adalah tidak masuk ke dalam komunitas yang menolak, kemudian berusaha mencari dan menemukan komunitas yang sesuai. Agar hidup menjadi lebih mudah, menjadi lebih bisa berkarya dan menjadi lebih bermakna.
2 komentar:
Kalau Menautkan Rambut Gondrong dan Prestasi ya nggak nyambung toh Nduk.
Karena Lingkupnya Sekolah ya harus ada Etika Sekolah, Masuk Dunia Kerja harus Lingkup Dunia Kerja.
Etika dan berprestasi jelas beda. Kita Ambil contoh seorang yang ahli Bikin Kue, tetap saja saat proses buat kue harus tutup, rambut disinyalir mengurangi produktivitas dan kualitas Kue tsb, Pasti ada standarisai cara pengolahannya, Biarpun dia super per per.
masalahnya bukan di prestasi tapi di etika.
Setuju sama Anakmu..entah darimana aturan "ANEH" tersebut dibuat, padahal walaupun panjang / pendek itu tidak mempengaruhi penampilan, semua kembali kepada kebersihan personal, karena banyak juga kok rambut pendek yang dekil, kusam,,tergantung cara berpakaian aja..
Posting Komentar