Biasa, sambil ngunjukno celana....
wira-wiri ngamat-amati endi sing iso digarap....
sopo ngerti oleh proyek anyar....,
eh...ndilalah....,
oleh ngisore tangga...,
lumayaaann rek.... !,
Areke oleh maneh...
Minggu, 23 November 2008
Rabu, 19 November 2008
SURAT TERLARANG, DILARANG BACA SELAIN PAK DO !
Dear Pak Do....,
Aku hanya bisa bilang...’kecian deh loe....,
Habis, semua tunjangan kawan-kawan pejabat pada naik....
Eehhhh...Cuma Pak Do yang ter ‘singsal’...
Tetep aja bergerak dari dua ratus ribuan...
Ya... bagaimana lagi....kecian deh loe....,
Mungkin...konsep usulan yang ada namanya Pak Do,
“lagi tersimpan di laci warek!”...
Pak Do...Pak Do.... !
Pak Do tahu ndak ?
Laci warek itu bukan sembarang laci lho ....!
Meskipun kecil dan sempit,
Laci ini mampu menyimpan segala macam “file” document lho...!
Laci ini juga bisa menyimpan barang-barang dan dokumen ghoib lho....!
Ndak percaya....?
Lha Renstra kita yang belum disusun dan Statuta 10 tahun ke depan yang belum ditulis aja....disimpan di sana lho...!
Coba aja baca surat “pamer”nya kepada dekan pas dia “digandholi”atas pengunduran dirinya....,
Sudah ahhh.... nanti kuwalat jadi jambu mente...!
Kita kan harus menerapkan ajaran kasih....
Sayangnya dalam kasus ini....menjadi tipis bedanya,
antara kasih dan pilih kasih..he..he...
oh ya prend,...
jangan dibocorkan lho !!!
nanti ndak dianggep menciptakan situasi tak kondusip lho...,
kan sudah jelas ?
kalau bikin situasi ndak kondusip, tindak teges saja bro...!
Aku hanya bisa bilang...’kecian deh loe....,
Habis, semua tunjangan kawan-kawan pejabat pada naik....
Eehhhh...Cuma Pak Do yang ter ‘singsal’...
Tetep aja bergerak dari dua ratus ribuan...
Ya... bagaimana lagi....kecian deh loe....,
Mungkin...konsep usulan yang ada namanya Pak Do,
“lagi tersimpan di laci warek!”...
Pak Do...Pak Do.... !
Pak Do tahu ndak ?
Laci warek itu bukan sembarang laci lho ....!
Meskipun kecil dan sempit,
Laci ini mampu menyimpan segala macam “file” document lho...!
Laci ini juga bisa menyimpan barang-barang dan dokumen ghoib lho....!
Ndak percaya....?
Lha Renstra kita yang belum disusun dan Statuta 10 tahun ke depan yang belum ditulis aja....disimpan di sana lho...!
Coba aja baca surat “pamer”nya kepada dekan pas dia “digandholi”atas pengunduran dirinya....,
Sudah ahhh.... nanti kuwalat jadi jambu mente...!
Kita kan harus menerapkan ajaran kasih....
Sayangnya dalam kasus ini....menjadi tipis bedanya,
antara kasih dan pilih kasih..he..he...
oh ya prend,...
jangan dibocorkan lho !!!
nanti ndak dianggep menciptakan situasi tak kondusip lho...,
kan sudah jelas ?
kalau bikin situasi ndak kondusip, tindak teges saja bro...!
Ya...Allah, Anugerahkan Anggur Ternikmat untuk Mbok Nah !
Aku lupa akan apa yang tidak menarik dalam hidupku. Yang aku ingat hanyalah segala hal yang membuatku tertarik untuk kuabadikan dalam tulisan. Orang tuaku bukan pegawai negeri. Bapakku seorang pengusaha pengrajin sarung tenun motif tradisional dan ibuku membantu pekerjaan bapakku di pabrik. Kami memiliki lebih kurang 100 karyawan yang bekerja di dalam dan tersebar di beberapa kampung sekitar di luar pabrik. sehingga untuk ukuran sebuah dusun pada waktu aku kanak-kanak, orang tuaku termasuk dalam kategori “orang berada” di sana. Kedua orang tuaku tergolong workaholic, selalu menghabiskan waktu di pabrik, bahkan meskipun itu adalah hari minggu. Dalam kamus orang tuaku, tak ada kata “libur”.
Kerinduanku akan kehangatan kasih sayang orang tuaku, tak pernah tersampaikan. Bahkan, penyakit demamku yang sesekali kumat, tak jua mampu memanggil ibuku pulang dari pabrik, untuk sekedar mendekap dan memeluk aku hingga aku terttidur nyaman. Ibuku selalu bekerja dan bekerja sepanjang hari, sepanjang malam dan sepanjang minggu. Bapakku juga sama saja. Bagi mereka, mengajukan protes untuk ditunggui adalah sebuah kemanjaan. Bagi mereka, hidup yang benar adalah bekerja, sehingga aku dan kakak-kakakku selalu saja diharuskan terlibat dalam pekerjaan di pabrik. Jika kedapatan kami bermain bersama anak-anak kampung sebaya kami, sementara kedua orang tua kami sedang bekerja keras di pabrik, maka sudah dapat dipastikan, bahwa kemarahan dan pukulan sapu lidi sudah menanti.
Satu-satunya sandaran aku hanya mbok Nah. Hanya mbok Nah yang mengasuh aku dengan total kasih sayang yang dimilikinya. Perempuan tua ini mengabdikan hidupnya untuk keluarga kami. Aku sangat menyayanginya. Aku ingat betul betapa mbok Nah selalu merelakan kedua puting susunya untuk aku, meskipun air susunya tak jua pernah keluar. Jika kakak-kakakku gemes menyaksikan tingkahku, salah satu diantara mereka mengambil minyak kayu putih dan mengoleskan kayu putih kepada kedua puting susu mbok Nah. Namun mbok Nah-ku sangat baik hati. Dilapnya olesan kayu putih itu dengan ujung kain sewek nya dan mempersilahkanku untuk “menthil” kembali dalam pangkuannya.
Ketika aku ingin sekali sekolah, padahal usiaku belum genap lima tahun, Mbok Nah mengantar dan menggendongku, menempuh 4 kilometer menyusuri hamparan rel kereta api, jalan satu-satunya pergi dan pulang dari sekolah. Sekecil itu, aku belum mempunyai rasa iba. Yang aku rasakan hanya kenikmatan dalam gendongannya. Sesekali aku dipanggul di atas punggungnya, sesekali aku dituntunnya berjalan di sampingnya.
Suatu saat aku pernah sangat sedih. Ibuku marah hanya karena aku ingin menginap di rumah mbok Nah. Padahal tidur dalam pelukan mbok Nah, di rumahnya yang sekaligus juga berfungsi sebagai kandang sapi, bagiku tetap jauh lebih nyaman rasanya dibandingkan dengan tidur di rumah orang tuaku sendiri. Mbok Nah itu tidak pernah mengeluh, mbok Nah tidak pernah marah, mbok Nah tak pernah meminta meskipun kehidupan keluarganya sangat sangat sederhana. Sepanjang usia dalam hidupnya, nyaris dihabiskan hanya untuk memberi. Mbok Nah adalah seorang wonder woman.
Bahkan ketika aku melahirkan anak pertamaku, mbok Nah pun merawat dan mengasihi anakku sama seperti yang dilakukannya kepadaku. Waktu itu aku sudah bekerja meskipun gajiku tak besar sebagai guru di sebuah Tsanawiyah di kampung sebelah. Dari gajiku yang sedikit, aku belikan buah anggur untuk mbok Nah-ku. Namun, apa yang kudapati diluar dugaanku. Mbok Nah justru menangis meraung-raung di dapur kami dengan memegang anggur di piring. Katanya, dia sangat terharu bahagia sudah dapat ikut menikmati gajiku, “cucu”nya yang selama ini besar dalam gendongan kasihsayangnya. Katanya, apa yang kulakukan, tak pernah dilakukan oleh anak-anaknya, karena kata mbok Nah, mereka tak mungin membelikannya anggur.
Ini kehidupan kami, 20 tahun yang lalu. Selepas ujian sarjana, aku mengadu nasib di Surabaya. Setiap pulang kampung, aku menemui mbok Nah. Mbok Nah bilang selalu mendoakan aku agar hidupku bahagia dan berkecukupan rizki. Tapi sayang, mbok Nah meninggal dunia karena asma 15 tahun yang lalu, jauh sebelum aku menikmati kecukupan rizki yang dulu pernah dimohonkannya kepada Allah SWT untukku. Aku yakin mbok Nah di alam sana pun selalu mendoakanku. Sampai sekarang aku seringkali kangen mbok Nah dan selalu menangis mengenang semua yang telah diberikannya padaku lebih dari segalanya.
Mbok, tadi pagi hujan mengguyur Surabaya. Dan aku sedang dalam perjalanan mengendarai motor menuju tempat kerja. Mbok tahu? Aku begitu kangen sama mbok. Aku sangat ingin bertemu dan membahagiakan mbok. Aku tahu mbok tidak bahagia sepanjang kehidupan mbok tapi aku yakin mbok bahagia dalam kematian. Aku tahu mbok sedang menyaksikan aku yang sudah mampu membelikan anggur lagi untuk mbok. Hari ini aku bisa membelikan buah apapun yang mbok inginkan dan belum pernah mbok makan. Mengapa mbok meninggal sebelum aku mampu membawakan mbok segenggam anggur lagi, yang lebih nikmat dari yang dulu ? ya Allah, bahagiakan mbok Nah_ku dan anugerahkan anggur yang paling nikmat untuknya di alam sana. Amin !
Ironisme Lembaga Pendidikan Bernuansa Bisnis
”Sampeyan itu mengelola sekolahan apa bank thithil?”. (bank thithil = rentenir).
Demikian kalimat tanya yang baru-baru ini saya sampaikan kepada salah satu lembaga pendidikan profesi di kota Surabaya, ketika berulangkali karyawatinya yang berjilbab itu, mengingatkan saya bahwa SPP bulanan anak saya, yang baru saja tercatat sebagai siswa baru, tak boleh terlambat. Paling lambat harus dibayarkan tanggal 3 setiap bulannya. Apabila terlambat, dikenakan denda Rp 5000,-“ per hari.
Hingga saat ini, pikiran saya selalu saja terganggu oleh realita tentang pendidikan yang dibisniskan. Yang saya alami adalah satu dari sekian contoh yang ada di kota ini. Dan yang paling memprihatinkan adalah jubah yang dikenakan adalah jubah (maaf) agamis. Begitu anda memasuki gedung megahnya, yang ada semuanya bernuansa agamis, dari ayat-ayat suci yang ditempel di setiap jengkal dinding, ketersediaan tempat ibadah, rutinitas pengajian, hingga karyawati yang semuanya berjilbab dan karyawan yang nyaris semuanya berjenggot . kata-katanya begitu teduh, memberikan keyakinan bahwa kita tak salah pilih. Yang mengganggu pikiran saya adalah, tindakan-tindakan mereka sangat tidak masuk akal dan merupakan sebuah ironisme.
Lembaga pendidikan yang memilih nuansa agamis, mestinya mencerminkan dan mengimplementasikan ajaran-ajaran yang agamis pula. Dalam relevansinya dengan pendidikan, mestinya ada keberpihakan kepada kaum papa. Lha ini, yang ada malah di tangan kaum yang mengaku agamis, pendidikan semakin mahal, jauh lebih mahal dari sekolah-sekolah umum/biasa. Sekarang ini, jika tidak memiliki dana minimal lima hingga sepuluh juta (dan ini hanya dana awal), jangan bermimpi bisa menginjak sekolah-sekolah bernuansa agamis, jangankan Sekolah Dasar, bahkan setingkat Play Group pun dibisniskan. Mereka tak lebih dari pebisnis komersil yang bersembunyi di balik sampul-sampul agamis. Dalam contoh kasus di atas, dengan mengenakan denda lima ribu per hari bagi keterlambatan pembayaran, artinya ini lebih kejam dari bank thithil atau rentenir. Bagi mereka yang mengaku agamis, pasti dapat memahami bahwa siswa atau orang tua yang terlambat membayar, pastilah disebabkan karena belum meliliki uang, lha kok solusinya malah “dicekik”?.
Sebagai pebisnis, sah-sah saja mereka menetapkan harga yang sangat tinggi, untuk segmen pasar yang dipilihnya, yakni segmen kelas sosial “berduit”. Memang, segmen kelas atas, sebagian besar meragukan kualitas produk apapun yang dijual dengan harga yang murah. Dalam persepsi psikologis segmen ini, produk mahal pasti kualitasnya bagus. Oleh karenanya, bagi pebisnis yang telah menetapkan bahwa segmen pasar yang dipilih adalah segmen kelas atas, jangan sekali-sekali memberi harga rendah, pasti tidak akan diminati.
Persoalannya adalah yang dibisniskan ini ‘pendidikan’. Okey-lah kalau mereka tidak sama sekali menyampuli dirinya dengan hal-hal yang terkait dengan agama. Bukankah sebuah ironisme jika kaum yang mengaku agamis mencekik saudaranya sendiri, baik saudaranya yang seiman maupun sebangsa setanah air ?. Yang mampu bersekolah di sana hanyalah orang-orang yang berduit saja. Hadirnya sekolah – sekolah ‘favorit”ini hanya akan menciptakan senjang yang makin lebar saja antara si kaya dan si miskin. Anak-anak menjadi semakin terpisahkan. Karena dengan melembagakan orang-orang kaya lewat sekolah-sekolah “favorit”, otomatis mendidik anak-anak untuk berinterakti sosial, hanya dengan sesama kelas sosial. Apabila ini berlangsung reguler dan kontinyu, hal ini akan membentuk komunitas yang baru, yang tentu saja isinyapun hanya mereka-mereka yang berduit saja. Lantas apa dampaknya kemudian ? komunitas kaum miskin/papa akan semakin terpuruk dan tak dapat duduk sejajar menikmati indahnya kemajuan pendidikan dan teknologi. Mereka semakin lama semakin terpinggirkan.
Betapapun, naluri bisnis itu dapat melihat dan menangkap peluang, meskipun peluang itu sangat kecil. Sebagai ilustrasi lain, bahkan “pelatihan sholat khusu’ pun bisa dijual dengan harga Rp 1,5 juta per orang” dan ada yang “minat”, dan banyak yang “membeli” pelatihan ini.
Lantas bagaimana menghadapi kondisi dan situasi pebisnis pendidikan ?
Bagi masyarakat sebagai konsumen, yang dapat dilakukan adalah berhati-hati saja dalam “membeli” pendidikan. Pendidikan anak-anak memang investasi, namun tidak harus dibayar dengan melampaui batas-batas kewajaran. Apabila kita mempunyai uang lebih, alangkah baiknya berbagi untuk anak-anak lain yang tak mampu membayar biaya pendidikan. Ini akan lebih mulia dari pada masuk ke dalam lingkaran pebisnis yang tidak punya hati. Dalam ilmu perilaku konsumen, dikatakan bahwa kebanyakan konsumen adalah “illogic”/ tidak logis dalam mengambil keputusan pembelian. Dalam mengambil keputusan beli, kebanyakan dipengaruhi oleh faktor psikis (phsycological factor). Oleh karenanya, inilah yang digunakan sebagai senjata pebisnis untuk menyusun strategi. Psikis calon konsumen akan diserang/disentuh lebih dulu, untuk memunculkan minat, bahkan yang tidak butuh pun, akhirnya bisa jadi butuh. Bagi para pebisnis pendidikan, paling banter, yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga semacam itu adalah ‘pendidikan disiplin dan akhlak’, bukan “jaminan surga atau neraka”. Mengapa tidak kita sendiri yang bertanggungjawab, kemudian mengajarkan dua hal itu kepada anak-anak ? Mengapa kita harus membayar sebuah lembaga untuk menjalankan peran dan tanggung jawab kita sebagai orang tua? Jika kita tidak mau atau lebih ekstrimnya lagi, “malas bertanggungjawab”, maka kita selamanya akan menjadi sasaran kaum pebisnis pendidikan.
Bagi pemerintah, Mengapa tidak ada regulasi yang mampu mengatur batas kewajaran biaya pendidikan ? atau, jika sudah ada, mengapa makin lama sekolah-sekolah “bersampul agamis” itu makin melenggang berbisnis ?
Wallahu’alam !
Demikian kalimat tanya yang baru-baru ini saya sampaikan kepada salah satu lembaga pendidikan profesi di kota Surabaya, ketika berulangkali karyawatinya yang berjilbab itu, mengingatkan saya bahwa SPP bulanan anak saya, yang baru saja tercatat sebagai siswa baru, tak boleh terlambat. Paling lambat harus dibayarkan tanggal 3 setiap bulannya. Apabila terlambat, dikenakan denda Rp 5000,-“ per hari.
Hingga saat ini, pikiran saya selalu saja terganggu oleh realita tentang pendidikan yang dibisniskan. Yang saya alami adalah satu dari sekian contoh yang ada di kota ini. Dan yang paling memprihatinkan adalah jubah yang dikenakan adalah jubah (maaf) agamis. Begitu anda memasuki gedung megahnya, yang ada semuanya bernuansa agamis, dari ayat-ayat suci yang ditempel di setiap jengkal dinding, ketersediaan tempat ibadah, rutinitas pengajian, hingga karyawati yang semuanya berjilbab dan karyawan yang nyaris semuanya berjenggot . kata-katanya begitu teduh, memberikan keyakinan bahwa kita tak salah pilih. Yang mengganggu pikiran saya adalah, tindakan-tindakan mereka sangat tidak masuk akal dan merupakan sebuah ironisme.
Lembaga pendidikan yang memilih nuansa agamis, mestinya mencerminkan dan mengimplementasikan ajaran-ajaran yang agamis pula. Dalam relevansinya dengan pendidikan, mestinya ada keberpihakan kepada kaum papa. Lha ini, yang ada malah di tangan kaum yang mengaku agamis, pendidikan semakin mahal, jauh lebih mahal dari sekolah-sekolah umum/biasa. Sekarang ini, jika tidak memiliki dana minimal lima hingga sepuluh juta (dan ini hanya dana awal), jangan bermimpi bisa menginjak sekolah-sekolah bernuansa agamis, jangankan Sekolah Dasar, bahkan setingkat Play Group pun dibisniskan. Mereka tak lebih dari pebisnis komersil yang bersembunyi di balik sampul-sampul agamis. Dalam contoh kasus di atas, dengan mengenakan denda lima ribu per hari bagi keterlambatan pembayaran, artinya ini lebih kejam dari bank thithil atau rentenir. Bagi mereka yang mengaku agamis, pasti dapat memahami bahwa siswa atau orang tua yang terlambat membayar, pastilah disebabkan karena belum meliliki uang, lha kok solusinya malah “dicekik”?.
Sebagai pebisnis, sah-sah saja mereka menetapkan harga yang sangat tinggi, untuk segmen pasar yang dipilihnya, yakni segmen kelas sosial “berduit”. Memang, segmen kelas atas, sebagian besar meragukan kualitas produk apapun yang dijual dengan harga yang murah. Dalam persepsi psikologis segmen ini, produk mahal pasti kualitasnya bagus. Oleh karenanya, bagi pebisnis yang telah menetapkan bahwa segmen pasar yang dipilih adalah segmen kelas atas, jangan sekali-sekali memberi harga rendah, pasti tidak akan diminati.
Persoalannya adalah yang dibisniskan ini ‘pendidikan’. Okey-lah kalau mereka tidak sama sekali menyampuli dirinya dengan hal-hal yang terkait dengan agama. Bukankah sebuah ironisme jika kaum yang mengaku agamis mencekik saudaranya sendiri, baik saudaranya yang seiman maupun sebangsa setanah air ?. Yang mampu bersekolah di sana hanyalah orang-orang yang berduit saja. Hadirnya sekolah – sekolah ‘favorit”ini hanya akan menciptakan senjang yang makin lebar saja antara si kaya dan si miskin. Anak-anak menjadi semakin terpisahkan. Karena dengan melembagakan orang-orang kaya lewat sekolah-sekolah “favorit”, otomatis mendidik anak-anak untuk berinterakti sosial, hanya dengan sesama kelas sosial. Apabila ini berlangsung reguler dan kontinyu, hal ini akan membentuk komunitas yang baru, yang tentu saja isinyapun hanya mereka-mereka yang berduit saja. Lantas apa dampaknya kemudian ? komunitas kaum miskin/papa akan semakin terpuruk dan tak dapat duduk sejajar menikmati indahnya kemajuan pendidikan dan teknologi. Mereka semakin lama semakin terpinggirkan.
Betapapun, naluri bisnis itu dapat melihat dan menangkap peluang, meskipun peluang itu sangat kecil. Sebagai ilustrasi lain, bahkan “pelatihan sholat khusu’ pun bisa dijual dengan harga Rp 1,5 juta per orang” dan ada yang “minat”, dan banyak yang “membeli” pelatihan ini.
Lantas bagaimana menghadapi kondisi dan situasi pebisnis pendidikan ?
Bagi masyarakat sebagai konsumen, yang dapat dilakukan adalah berhati-hati saja dalam “membeli” pendidikan. Pendidikan anak-anak memang investasi, namun tidak harus dibayar dengan melampaui batas-batas kewajaran. Apabila kita mempunyai uang lebih, alangkah baiknya berbagi untuk anak-anak lain yang tak mampu membayar biaya pendidikan. Ini akan lebih mulia dari pada masuk ke dalam lingkaran pebisnis yang tidak punya hati. Dalam ilmu perilaku konsumen, dikatakan bahwa kebanyakan konsumen adalah “illogic”/ tidak logis dalam mengambil keputusan pembelian. Dalam mengambil keputusan beli, kebanyakan dipengaruhi oleh faktor psikis (phsycological factor). Oleh karenanya, inilah yang digunakan sebagai senjata pebisnis untuk menyusun strategi. Psikis calon konsumen akan diserang/disentuh lebih dulu, untuk memunculkan minat, bahkan yang tidak butuh pun, akhirnya bisa jadi butuh. Bagi para pebisnis pendidikan, paling banter, yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga semacam itu adalah ‘pendidikan disiplin dan akhlak’, bukan “jaminan surga atau neraka”. Mengapa tidak kita sendiri yang bertanggungjawab, kemudian mengajarkan dua hal itu kepada anak-anak ? Mengapa kita harus membayar sebuah lembaga untuk menjalankan peran dan tanggung jawab kita sebagai orang tua? Jika kita tidak mau atau lebih ekstrimnya lagi, “malas bertanggungjawab”, maka kita selamanya akan menjadi sasaran kaum pebisnis pendidikan.
Bagi pemerintah, Mengapa tidak ada regulasi yang mampu mengatur batas kewajaran biaya pendidikan ? atau, jika sudah ada, mengapa makin lama sekolah-sekolah “bersampul agamis” itu makin melenggang berbisnis ?
Wallahu’alam !
Menjadi Ibu itu Indah
Setiap perempuan pasti akan menjadi ibu. Menikah atau tidak, perempuan akan dipanggil ibu. Hari ini, kebahagiaan saya bertambah karena ‘Hanief’, putra tunggal saya, yang berusia 17 tahun lebih 3 bulan, diterima bekerja di satu perusahaan , sesuai bidang yang diminatinya. Rasanya tak percaya bahwa waktu berjalan begitu cepat. Seperti baru kemarin, saya menggendong dan membacakan dongeng “cindelaras”, sebuah dongeng yang amat disukainya.
Mengantarkan anak menjadi mandiri, begitu indah dan menyenangkan. Saya sungguh bersyukur, Allah SWT menganugerahkan seorang anak yang dalam waktu yang tepat, dapat membuat suatu keputusan yang bermakna bagi hidupnya sendiri. Hanief berhasil menjadikan hidupnya lebih bermakna. Oleh pimpinan perusahaan dan pelanggannya, hasil karyanya dinilai tidak mengecewakan. Inilah hasil suatu riset, yang obyeknya adalah saya dan anak saya, tentang bagaimana menikmati peran sebagai ibu dan menjadikan peran tersebut sebagai sesuatu menyenangkan. Hari-hari menjadi ibu, akan menjadi pengalaman yang begitu indah dan menyenangkan apabila kita sebagai ibu bersedia:
1. selalu melibatkan Tuhan. Mengapa ? Karena Tuhan adalah satu-satunya dzat yang “Maha memiliki Kesanggupan”. Ketika kita sedang tak sanggup mendampingi anak-anak (karena pekerjaan atau hal lain), Tuhan “sanggup” melakukannya.
2. berguru kepada apa dan siapa saja. Berguru kepada apa dan siapa saja adalah berguru kepada Al- Kitab, buku-buku bacaan dan seluruh makhluk Allah. Berguru kepada apa dan siapa saja, akan menumbuhkan rasa saling cinta, saling kasih dan saling sayang antara anak dengan orang tua. Ketika kolam ikan depan rumah saya tidak saya tutupi dengan kawat ram, pada hari saya sedang bekerja di luar rumah, kucing datang memangsanya satu per satu. Ini mengajarkan kepada saya tentang bagaimana kita bisa “saling melindungi”.
3. memandikan dan menidurkan anak, hingga anak mampu melakukannya sendiri. Sesibuk apapun kita, menyerahkan kepada pembantu/suster hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan terindah. Saya bahagia luar biasa, ketika Hanief kecil selalu merindukan kapan tiba waktunya harus mandi sambil menyanyikan lagu ciptaan saya sendiri (yang sebetulnya asal bunyi saja tapi rutin saya nyanyikan bersamanya). Saat saya keramasi dia, saya menyanyi...ini rambut atau hair nya.....saat saya sabun lehernya, saya menyanyi ...ini leher atau neck-nya, saat saya sabun perutnya, saya menyanyi...ini perut atau stomach-nya, bahkan saat saya sabun (maaf) alat vitalnya pun, saya menyanyi ....ini penisnya (saya tidak mengajarkan bahwa penis itu ‘burung’)..dan seterusnya, sampai seluruh anggota badan tersebutkan. Manfaatnya, disamping belajar hidup bersih, secara tak langsung, anak dapat belajar English ringan. Nah, bagaimana jika kita bekerja, berangkat pagi pulang malam ? Berangkat pagi bukan persoalan besar. Kita bisa bangun lebih pagi lagi, bangunkan anak dengan doa, nyanyian, kata-kata dan ciuman yang penuh kasih sayang. Menjelang tidur, saya sempatkan membacakan dongeng. “Dongeng malam” bisa diatur satu atau dua kali seminggu, asal rutin. Buatlah anak-anak untuk merindukan dongeng kita di akhir pekan, misalnya. Ini sungguh membahagiakan.
4. menstimulasi minat belajar anak dengan bacaan. Ini dapat dilakukan dengan meletakkan buku-buku bacaan, pada tempat-tempat yang mudah dijangkau. Melibatkan anak dalam diskusi tentang topik-topik ringan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, akan merangsang kepekaan anak terhadap persoalan-persoalan sosial.
5. mempercayai anak. Anak-anak hendaknya diberi kepercayaan mulai dini. Hal yang terkait dengan keuangan misalnya, berikan dompet kecil, yang isinya cukup untuk keperluan sehari, dua hari, tiga hari dan seterusnya secara bertahap, hingga ketika ia sampai pada usia SLTA, ia mampu mengelola pengeluarannya, minimal dalam batas waktu dua minggu pengelolaan. Namun evaluasilah kemana larinya uang saku tersebut. Dalam hal non keuangan, tiap sore kita biasakan menanyakan apa saja kegiatan yang dilakukan anak seharian. Ini akan merangsang kedekatan dan keterbukaan anak kepada kita. Tanpa terasa kita akan mengenal seluruh nama kawan-kawan dan guru-gurunya serta nama-nama personal yang berkegiatan dengannya dalam melalui hari-harinya.
6. mengarahkan dan menghargai keputusan anak. Seperti halnya kita, anak-anak memiliki hak untuk pilihan hidupnya, untuk itu hendaknya kita dapat menghargainya. Ketika Hanief ingin memasuki TK, pada usia yang belum genap lima tahun, saya menghargai keinginannya. Hari pertama, saya menuntun tangan kecilnya untuk berkenalan dengan guru dan kawan barunya, mengenali bangku dan toiletnya, memintanya mempraktekkan bagaimana cara minta ijin jika ingin pipis, memberi pesan khusus atas penggunaan uang sakunya. Selanjutnya, saya tak perlu lagi mengantarnya selama TK. Saat harus memilih antara SMA atau SMK pun, kami diskusi. Begitu ia berminat memilih SMK jurusan Teknologi Informatika (TI), saya survey beberapa sekolah yang memiliki jurusan TI. Saya masuk hingga ke dalam laboratoriumnya. Membaca brosur belumlah cukup, sebab tak jarang apa yang dikatakan brosur tak sesuai dengan aslinya. ‘Mendengarkan’ ketua jurusan berbicara soal jurusan yang dikelolanya, amatlah penting bagi kami. Selebihnya, Hanief yang memutuskan di sekolah mana dia akan belajar. Alhamdulillah, dia selesaikan SMKnya dalam waktu yang tepat dan memutuskan untuk bekerja selepas SMK. Bahkan ia merencanakan kuliah dengan biaya sendiri.
Itulah pengalaman mengantarkan Hanief kecil hingga menjadi sosok anak yang sekarang ini sedang belajar dewasa. Tentu banyak tips lain yang mungkin berbeda. Namun demikian, mudah-mudahan ini dapat memberikan warna dan inspirasi bagi pembaca yang akan dan sedang mengantarkan anak-anak menuju kemandiriannya. Amin !
Mengantarkan anak menjadi mandiri, begitu indah dan menyenangkan. Saya sungguh bersyukur, Allah SWT menganugerahkan seorang anak yang dalam waktu yang tepat, dapat membuat suatu keputusan yang bermakna bagi hidupnya sendiri. Hanief berhasil menjadikan hidupnya lebih bermakna. Oleh pimpinan perusahaan dan pelanggannya, hasil karyanya dinilai tidak mengecewakan. Inilah hasil suatu riset, yang obyeknya adalah saya dan anak saya, tentang bagaimana menikmati peran sebagai ibu dan menjadikan peran tersebut sebagai sesuatu menyenangkan. Hari-hari menjadi ibu, akan menjadi pengalaman yang begitu indah dan menyenangkan apabila kita sebagai ibu bersedia:
1. selalu melibatkan Tuhan. Mengapa ? Karena Tuhan adalah satu-satunya dzat yang “Maha memiliki Kesanggupan”. Ketika kita sedang tak sanggup mendampingi anak-anak (karena pekerjaan atau hal lain), Tuhan “sanggup” melakukannya.
2. berguru kepada apa dan siapa saja. Berguru kepada apa dan siapa saja adalah berguru kepada Al- Kitab, buku-buku bacaan dan seluruh makhluk Allah. Berguru kepada apa dan siapa saja, akan menumbuhkan rasa saling cinta, saling kasih dan saling sayang antara anak dengan orang tua. Ketika kolam ikan depan rumah saya tidak saya tutupi dengan kawat ram, pada hari saya sedang bekerja di luar rumah, kucing datang memangsanya satu per satu. Ini mengajarkan kepada saya tentang bagaimana kita bisa “saling melindungi”.
3. memandikan dan menidurkan anak, hingga anak mampu melakukannya sendiri. Sesibuk apapun kita, menyerahkan kepada pembantu/suster hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan terindah. Saya bahagia luar biasa, ketika Hanief kecil selalu merindukan kapan tiba waktunya harus mandi sambil menyanyikan lagu ciptaan saya sendiri (yang sebetulnya asal bunyi saja tapi rutin saya nyanyikan bersamanya). Saat saya keramasi dia, saya menyanyi...ini rambut atau hair nya.....saat saya sabun lehernya, saya menyanyi ...ini leher atau neck-nya, saat saya sabun perutnya, saya menyanyi...ini perut atau stomach-nya, bahkan saat saya sabun (maaf) alat vitalnya pun, saya menyanyi ....ini penisnya (saya tidak mengajarkan bahwa penis itu ‘burung’)..dan seterusnya, sampai seluruh anggota badan tersebutkan. Manfaatnya, disamping belajar hidup bersih, secara tak langsung, anak dapat belajar English ringan. Nah, bagaimana jika kita bekerja, berangkat pagi pulang malam ? Berangkat pagi bukan persoalan besar. Kita bisa bangun lebih pagi lagi, bangunkan anak dengan doa, nyanyian, kata-kata dan ciuman yang penuh kasih sayang. Menjelang tidur, saya sempatkan membacakan dongeng. “Dongeng malam” bisa diatur satu atau dua kali seminggu, asal rutin. Buatlah anak-anak untuk merindukan dongeng kita di akhir pekan, misalnya. Ini sungguh membahagiakan.
4. menstimulasi minat belajar anak dengan bacaan. Ini dapat dilakukan dengan meletakkan buku-buku bacaan, pada tempat-tempat yang mudah dijangkau. Melibatkan anak dalam diskusi tentang topik-topik ringan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, akan merangsang kepekaan anak terhadap persoalan-persoalan sosial.
5. mempercayai anak. Anak-anak hendaknya diberi kepercayaan mulai dini. Hal yang terkait dengan keuangan misalnya, berikan dompet kecil, yang isinya cukup untuk keperluan sehari, dua hari, tiga hari dan seterusnya secara bertahap, hingga ketika ia sampai pada usia SLTA, ia mampu mengelola pengeluarannya, minimal dalam batas waktu dua minggu pengelolaan. Namun evaluasilah kemana larinya uang saku tersebut. Dalam hal non keuangan, tiap sore kita biasakan menanyakan apa saja kegiatan yang dilakukan anak seharian. Ini akan merangsang kedekatan dan keterbukaan anak kepada kita. Tanpa terasa kita akan mengenal seluruh nama kawan-kawan dan guru-gurunya serta nama-nama personal yang berkegiatan dengannya dalam melalui hari-harinya.
6. mengarahkan dan menghargai keputusan anak. Seperti halnya kita, anak-anak memiliki hak untuk pilihan hidupnya, untuk itu hendaknya kita dapat menghargainya. Ketika Hanief ingin memasuki TK, pada usia yang belum genap lima tahun, saya menghargai keinginannya. Hari pertama, saya menuntun tangan kecilnya untuk berkenalan dengan guru dan kawan barunya, mengenali bangku dan toiletnya, memintanya mempraktekkan bagaimana cara minta ijin jika ingin pipis, memberi pesan khusus atas penggunaan uang sakunya. Selanjutnya, saya tak perlu lagi mengantarnya selama TK. Saat harus memilih antara SMA atau SMK pun, kami diskusi. Begitu ia berminat memilih SMK jurusan Teknologi Informatika (TI), saya survey beberapa sekolah yang memiliki jurusan TI. Saya masuk hingga ke dalam laboratoriumnya. Membaca brosur belumlah cukup, sebab tak jarang apa yang dikatakan brosur tak sesuai dengan aslinya. ‘Mendengarkan’ ketua jurusan berbicara soal jurusan yang dikelolanya, amatlah penting bagi kami. Selebihnya, Hanief yang memutuskan di sekolah mana dia akan belajar. Alhamdulillah, dia selesaikan SMKnya dalam waktu yang tepat dan memutuskan untuk bekerja selepas SMK. Bahkan ia merencanakan kuliah dengan biaya sendiri.
Itulah pengalaman mengantarkan Hanief kecil hingga menjadi sosok anak yang sekarang ini sedang belajar dewasa. Tentu banyak tips lain yang mungkin berbeda. Namun demikian, mudah-mudahan ini dapat memberikan warna dan inspirasi bagi pembaca yang akan dan sedang mengantarkan anak-anak menuju kemandiriannya. Amin !
Membangun Miniatur Indonesia di Unpatma Surabaya
Sudah sepuluh tahun saya bergabung dengan kawan-kawan sebagai tenaga edukatif di lembaga Unpatma (Universitas ’45) Surabaya, namun sepanjang 23 tahun usianya, Unpatma tak pernah sempat besar. Satu-satunya alasan yang membuat lembaga ini terabaikan oleh calon mahasiwa adalah, ketidakterkenalannya. Ironis memang, sebab bangunan gedung Unpatma begitu megah, didukung lingkungan yang asri, terletak di kompleks Gedung joeang’45, di jalan besar Mayjend Sungkono Surabaya. Setiap hari ribuan masyarakat melewati jalan besar ini, seharusnya masyarakat mengenalnya. Nampaknya ketidakterkenalan sebuah lembaga pendidikan tinggi (PT) akan jadi pertimbangan masyarakat untuk membuat suatu judgement apakah sebuah PT itu layak atau tidak untuk dipercaya untuk mendidik calon mahasiswa.
Membuat suatu kegiatan yang bersifat expose, agar menjadi dikenal masyarakat, bukan hal yang mudah untuk saat ini, apalagi Unpatma adalah sebuah lembaga “miskin” yang tidak memiliki dana berlebih untuk kegiatan promosi agar masyarakat mendengar dan mengenal apa dan siapa Unpatma sebenarnya. Unpatma didirikan oleh bapak-bapak pejuang yang tergabung dalam organisasi DHD’45 (Dewan Harian Daerah Angkatan ’45) , yang notabene misinya adalah “melestarikan jiwa dan semangant nilai-nilai’45 (JSN’45)”. Konsekuensinya, seluruh personal yang terlibat dalam pengelolaan lembaga ini haruslah memiliki jiwa perjuangan dan pengabdian yang tinggi seperti para pejuang ’45. Tidak terkecuali mahasiswa, mereka berkewajiban mengikuti mata kuliah Pendidikan JSN’45, selama satu semester dengan bobot 2 SKS.
Di mata saya, pelestarian jiwa, semangat dan nilai-nilai ’45 sebenarnya adalah sebuah uniqness, yang tak dimiliki oleh lembaga lain. Namun pada jaman seperti ini, siapa orang muda yang akan tertarik bahkan berminat untuk melestarikan jiwa semangat dan nilai-nilai ’45 (JSN’45) ? sementara kemauan dan daya ingat untuk mengibarkan bendera merah putih pada hari-hari besar nasional saja sudah mulai memudar ? inilah dilematis sebuah lembaga pendidikan milik pejuang yang harus hidup dan bersaing dengan lembaga lain yang tengah berkejaran dengan nilai-nilai komersialitas demi bertahan hidup.
Saya berfikir keras untuk hal ini, untuk sebuah lembaga mulia yang harus tetap hidup dan tidak boleh mati tergilas berbagai macam kontaminasi perkembangan jaman. Dalam angan-angan saya, alangkah indahnya jika Unpatma disulap menjadi sebuah PT yang merupakan miniatur Indonesia. Ada pilihan-pilihan jurusan yang lengkap, yang disiapkan untuk mengelola Negeri Indonesia ke depan, ada berbagai bahasa pengantar yang merupakan bahasa yang menunjukkan kebhinekaan Indonesia, ada gambar bendera merah putih dan burung Garuda Pancasila yang terpampang di setiap dinding ruang kelasnya, ada perputakaan sejarah Indonesia, ada laboratorium pengkajian dan pengembangan SDM yang ber JSN’45, dll....sehingga hal ini tak saja akan menarik segmen nasional, namun juga segmen internasional. Dengan demikian, dalam jangka panjang, siapapun yang ingin belajar tentang Indonesia, Unpatma lah pilihannya, karena ia telah dibangun menjadi miniatur Indonesia.
Namun persoalannya adalah, gencetan krisis multidimensi yang terus menerus terjadi di negeri ini lebih menyita waktu dan energi “kawan-kawan seperjuangan” dari pada harus memikirkan pelestarian sebuah warisan JSN’45 yang makin lama makin tak punya daya tarik saja. Berbagai kebijakan di negeri ini menjadi lebih menarik untuk diperbincangkan dan berbagai konsekuensi kebijakan yang berupa “kesulitan hidup” lebih kuat urgensinya untuk diatasi dari pada harus membahas bagaimana mempertahankan dan melestarikan warisan luhur ini. Jika saja pemerintah, khususnya daerah, mampu menangkap ini sebagai sesuatu yang patut untuk diperhatikan dan diperjuangkan, maka ke depan lembaga ini akan menjadi maskot yang menarik yang akan mengangkat harkat dan martabat bangsa. Insyaallah, Amin!.
Membuat suatu kegiatan yang bersifat expose, agar menjadi dikenal masyarakat, bukan hal yang mudah untuk saat ini, apalagi Unpatma adalah sebuah lembaga “miskin” yang tidak memiliki dana berlebih untuk kegiatan promosi agar masyarakat mendengar dan mengenal apa dan siapa Unpatma sebenarnya. Unpatma didirikan oleh bapak-bapak pejuang yang tergabung dalam organisasi DHD’45 (Dewan Harian Daerah Angkatan ’45) , yang notabene misinya adalah “melestarikan jiwa dan semangant nilai-nilai’45 (JSN’45)”. Konsekuensinya, seluruh personal yang terlibat dalam pengelolaan lembaga ini haruslah memiliki jiwa perjuangan dan pengabdian yang tinggi seperti para pejuang ’45. Tidak terkecuali mahasiswa, mereka berkewajiban mengikuti mata kuliah Pendidikan JSN’45, selama satu semester dengan bobot 2 SKS.
Di mata saya, pelestarian jiwa, semangat dan nilai-nilai ’45 sebenarnya adalah sebuah uniqness, yang tak dimiliki oleh lembaga lain. Namun pada jaman seperti ini, siapa orang muda yang akan tertarik bahkan berminat untuk melestarikan jiwa semangat dan nilai-nilai ’45 (JSN’45) ? sementara kemauan dan daya ingat untuk mengibarkan bendera merah putih pada hari-hari besar nasional saja sudah mulai memudar ? inilah dilematis sebuah lembaga pendidikan milik pejuang yang harus hidup dan bersaing dengan lembaga lain yang tengah berkejaran dengan nilai-nilai komersialitas demi bertahan hidup.
Saya berfikir keras untuk hal ini, untuk sebuah lembaga mulia yang harus tetap hidup dan tidak boleh mati tergilas berbagai macam kontaminasi perkembangan jaman. Dalam angan-angan saya, alangkah indahnya jika Unpatma disulap menjadi sebuah PT yang merupakan miniatur Indonesia. Ada pilihan-pilihan jurusan yang lengkap, yang disiapkan untuk mengelola Negeri Indonesia ke depan, ada berbagai bahasa pengantar yang merupakan bahasa yang menunjukkan kebhinekaan Indonesia, ada gambar bendera merah putih dan burung Garuda Pancasila yang terpampang di setiap dinding ruang kelasnya, ada perputakaan sejarah Indonesia, ada laboratorium pengkajian dan pengembangan SDM yang ber JSN’45, dll....sehingga hal ini tak saja akan menarik segmen nasional, namun juga segmen internasional. Dengan demikian, dalam jangka panjang, siapapun yang ingin belajar tentang Indonesia, Unpatma lah pilihannya, karena ia telah dibangun menjadi miniatur Indonesia.
Namun persoalannya adalah, gencetan krisis multidimensi yang terus menerus terjadi di negeri ini lebih menyita waktu dan energi “kawan-kawan seperjuangan” dari pada harus memikirkan pelestarian sebuah warisan JSN’45 yang makin lama makin tak punya daya tarik saja. Berbagai kebijakan di negeri ini menjadi lebih menarik untuk diperbincangkan dan berbagai konsekuensi kebijakan yang berupa “kesulitan hidup” lebih kuat urgensinya untuk diatasi dari pada harus membahas bagaimana mempertahankan dan melestarikan warisan luhur ini. Jika saja pemerintah, khususnya daerah, mampu menangkap ini sebagai sesuatu yang patut untuk diperhatikan dan diperjuangkan, maka ke depan lembaga ini akan menjadi maskot yang menarik yang akan mengangkat harkat dan martabat bangsa. Insyaallah, Amin!.
Langganan:
Komentar (Atom)