Rabu, 19 November 2008

Membangun Miniatur Indonesia di Unpatma Surabaya

Sudah sepuluh tahun saya bergabung dengan kawan-kawan sebagai tenaga edukatif di lembaga Unpatma (Universitas ’45) Surabaya, namun sepanjang 23 tahun usianya, Unpatma tak pernah sempat besar. Satu-satunya alasan yang membuat lembaga ini terabaikan oleh calon mahasiwa adalah, ketidakterkenalannya. Ironis memang, sebab bangunan gedung Unpatma begitu megah, didukung lingkungan yang asri, terletak di kompleks Gedung joeang’45, di jalan besar Mayjend Sungkono Surabaya. Setiap hari ribuan masyarakat melewati jalan besar ini, seharusnya masyarakat mengenalnya. Nampaknya ketidakterkenalan sebuah lembaga pendidikan tinggi (PT) akan jadi pertimbangan masyarakat untuk membuat suatu judgement apakah sebuah PT itu layak atau tidak untuk dipercaya untuk mendidik calon mahasiswa.
Membuat suatu kegiatan yang bersifat expose, agar menjadi dikenal masyarakat, bukan hal yang mudah untuk saat ini, apalagi Unpatma adalah sebuah lembaga “miskin” yang tidak memiliki dana berlebih untuk kegiatan promosi agar masyarakat mendengar dan mengenal apa dan siapa Unpatma sebenarnya. Unpatma didirikan oleh bapak-bapak pejuang yang tergabung dalam organisasi DHD’45 (Dewan Harian Daerah Angkatan ’45) , yang notabene misinya adalah “melestarikan jiwa dan semangant nilai-nilai’45 (JSN’45)”. Konsekuensinya, seluruh personal yang terlibat dalam pengelolaan lembaga ini haruslah memiliki jiwa perjuangan dan pengabdian yang tinggi seperti para pejuang ’45. Tidak terkecuali mahasiswa, mereka berkewajiban mengikuti mata kuliah Pendidikan JSN’45, selama satu semester dengan bobot 2 SKS.
Di mata saya, pelestarian jiwa, semangat dan nilai-nilai ’45 sebenarnya adalah sebuah uniqness, yang tak dimiliki oleh lembaga lain. Namun pada jaman seperti ini, siapa orang muda yang akan tertarik bahkan berminat untuk melestarikan jiwa semangat dan nilai-nilai ’45 (JSN’45) ? sementara kemauan dan daya ingat untuk mengibarkan bendera merah putih pada hari-hari besar nasional saja sudah mulai memudar ? inilah dilematis sebuah lembaga pendidikan milik pejuang yang harus hidup dan bersaing dengan lembaga lain yang tengah berkejaran dengan nilai-nilai komersialitas demi bertahan hidup.
Saya berfikir keras untuk hal ini, untuk sebuah lembaga mulia yang harus tetap hidup dan tidak boleh mati tergilas berbagai macam kontaminasi perkembangan jaman. Dalam angan-angan saya, alangkah indahnya jika Unpatma disulap menjadi sebuah PT yang merupakan miniatur Indonesia. Ada pilihan-pilihan jurusan yang lengkap, yang disiapkan untuk mengelola Negeri Indonesia ke depan, ada berbagai bahasa pengantar yang merupakan bahasa yang menunjukkan kebhinekaan Indonesia, ada gambar bendera merah putih dan burung Garuda Pancasila yang terpampang di setiap dinding ruang kelasnya, ada perputakaan sejarah Indonesia, ada laboratorium pengkajian dan pengembangan SDM yang ber JSN’45, dll....sehingga hal ini tak saja akan menarik segmen nasional, namun juga segmen internasional. Dengan demikian, dalam jangka panjang, siapapun yang ingin belajar tentang Indonesia, Unpatma lah pilihannya, karena ia telah dibangun menjadi miniatur Indonesia.
Namun persoalannya adalah, gencetan krisis multidimensi yang terus menerus terjadi di negeri ini lebih menyita waktu dan energi “kawan-kawan seperjuangan” dari pada harus memikirkan pelestarian sebuah warisan JSN’45 yang makin lama makin tak punya daya tarik saja. Berbagai kebijakan di negeri ini menjadi lebih menarik untuk diperbincangkan dan berbagai konsekuensi kebijakan yang berupa “kesulitan hidup” lebih kuat urgensinya untuk diatasi dari pada harus membahas bagaimana mempertahankan dan melestarikan warisan luhur ini. Jika saja pemerintah, khususnya daerah, mampu menangkap ini sebagai sesuatu yang patut untuk diperhatikan dan diperjuangkan, maka ke depan lembaga ini akan menjadi maskot yang menarik yang akan mengangkat harkat dan martabat bangsa. Insyaallah, Amin!.

Tidak ada komentar: