Rabu, 19 November 2008

Ya...Allah, Anugerahkan Anggur Ternikmat untuk Mbok Nah !


Aku lupa akan apa yang tidak menarik dalam hidupku. Yang aku ingat hanyalah segala hal yang membuatku tertarik untuk kuabadikan dalam tulisan. Orang tuaku bukan pegawai negeri. Bapakku seorang pengusaha pengrajin sarung tenun motif tradisional dan ibuku membantu pekerjaan bapakku di pabrik. Kami memiliki lebih kurang 100 karyawan yang bekerja di dalam dan tersebar di beberapa kampung sekitar di luar pabrik. sehingga untuk ukuran sebuah dusun pada waktu aku kanak-kanak, orang tuaku termasuk dalam kategori “orang berada” di sana. Kedua orang tuaku tergolong workaholic, selalu menghabiskan waktu di pabrik, bahkan meskipun itu adalah hari minggu. Dalam kamus orang tuaku, tak ada kata “libur”.
Kerinduanku akan kehangatan kasih sayang orang tuaku, tak pernah tersampaikan. Bahkan, penyakit demamku yang sesekali kumat, tak jua mampu memanggil ibuku pulang dari pabrik, untuk sekedar mendekap dan memeluk aku hingga aku terttidur nyaman. Ibuku selalu bekerja dan bekerja sepanjang hari, sepanjang malam dan sepanjang minggu. Bapakku juga sama saja. Bagi mereka, mengajukan protes untuk ditunggui adalah sebuah kemanjaan. Bagi mereka, hidup yang benar adalah bekerja, sehingga aku dan kakak-kakakku selalu saja diharuskan terlibat dalam pekerjaan di pabrik. Jika kedapatan kami bermain bersama anak-anak kampung sebaya kami, sementara kedua orang tua kami sedang bekerja keras di pabrik, maka sudah dapat dipastikan, bahwa kemarahan dan pukulan sapu lidi sudah menanti.
Satu-satunya sandaran aku hanya mbok Nah. Hanya mbok Nah yang mengasuh aku dengan total kasih sayang yang dimilikinya. Perempuan tua ini mengabdikan hidupnya untuk keluarga kami. Aku sangat menyayanginya. Aku ingat betul betapa mbok Nah selalu merelakan kedua puting susunya untuk aku, meskipun air susunya tak jua pernah keluar. Jika kakak-kakakku gemes menyaksikan tingkahku, salah satu diantara mereka mengambil minyak kayu putih dan mengoleskan kayu putih kepada kedua puting susu mbok Nah. Namun mbok Nah-ku sangat baik hati. Dilapnya olesan kayu putih itu dengan ujung kain sewek nya dan mempersilahkanku untuk “menthil” kembali dalam pangkuannya.
Ketika aku ingin sekali sekolah, padahal usiaku belum genap lima tahun, Mbok Nah mengantar dan menggendongku, menempuh 4 kilometer menyusuri hamparan rel kereta api, jalan satu-satunya pergi dan pulang dari sekolah. Sekecil itu, aku belum mempunyai rasa iba. Yang aku rasakan hanya kenikmatan dalam gendongannya. Sesekali aku dipanggul di atas punggungnya, sesekali aku dituntunnya berjalan di sampingnya.
Suatu saat aku pernah sangat sedih. Ibuku marah hanya karena aku ingin menginap di rumah mbok Nah. Padahal tidur dalam pelukan mbok Nah, di rumahnya yang sekaligus juga berfungsi sebagai kandang sapi, bagiku tetap jauh lebih nyaman rasanya dibandingkan dengan tidur di rumah orang tuaku sendiri. Mbok Nah itu tidak pernah mengeluh, mbok Nah tidak pernah marah, mbok Nah tak pernah meminta meskipun kehidupan keluarganya sangat sangat sederhana. Sepanjang usia dalam hidupnya, nyaris dihabiskan hanya untuk memberi. Mbok Nah adalah seorang wonder woman.
Bahkan ketika aku melahirkan anak pertamaku, mbok Nah pun merawat dan mengasihi anakku sama seperti yang dilakukannya kepadaku. Waktu itu aku sudah bekerja meskipun gajiku tak besar sebagai guru di sebuah Tsanawiyah di kampung sebelah. Dari gajiku yang sedikit, aku belikan buah anggur untuk mbok Nah-ku. Namun, apa yang kudapati diluar dugaanku. Mbok Nah justru menangis meraung-raung di dapur kami dengan memegang anggur di piring. Katanya, dia sangat terharu bahagia sudah dapat ikut menikmati gajiku, “cucu”nya yang selama ini besar dalam gendongan kasihsayangnya. Katanya, apa yang kulakukan, tak pernah dilakukan oleh anak-anaknya, karena kata mbok Nah, mereka tak mungin membelikannya anggur.
Ini kehidupan kami, 20 tahun yang lalu. Selepas ujian sarjana, aku mengadu nasib di Surabaya. Setiap pulang kampung, aku menemui mbok Nah. Mbok Nah bilang selalu mendoakan aku agar hidupku bahagia dan berkecukupan rizki. Tapi sayang, mbok Nah meninggal dunia karena asma 15 tahun yang lalu, jauh sebelum aku menikmati kecukupan rizki yang dulu pernah dimohonkannya kepada Allah SWT untukku. Aku yakin mbok Nah di alam sana pun selalu mendoakanku. Sampai sekarang aku seringkali kangen mbok Nah dan selalu menangis mengenang semua yang telah diberikannya padaku lebih dari segalanya.
Mbok, tadi pagi hujan mengguyur Surabaya. Dan aku sedang dalam perjalanan mengendarai motor menuju tempat kerja. Mbok tahu? Aku begitu kangen sama mbok. Aku sangat ingin bertemu dan membahagiakan mbok. Aku tahu mbok tidak bahagia sepanjang kehidupan mbok tapi aku yakin mbok bahagia dalam kematian. Aku tahu mbok sedang menyaksikan aku yang sudah mampu membelikan anggur lagi untuk mbok. Hari ini aku bisa membelikan buah apapun yang mbok inginkan dan belum pernah mbok makan. Mengapa mbok meninggal sebelum aku mampu membawakan mbok segenggam anggur lagi, yang lebih nikmat dari yang dulu ? ya Allah, bahagiakan mbok Nah_ku dan anugerahkan anggur yang paling nikmat untuknya di alam sana. Amin !

Tidak ada komentar: