Rabu, 19 November 2008

Menjadi Ibu itu Indah

Setiap perempuan pasti akan menjadi ibu. Menikah atau tidak, perempuan akan dipanggil ibu. Hari ini, kebahagiaan saya bertambah karena ‘Hanief’, putra tunggal saya, yang berusia 17 tahun lebih 3 bulan, diterima bekerja di satu perusahaan , sesuai bidang yang diminatinya. Rasanya tak percaya bahwa waktu berjalan begitu cepat. Seperti baru kemarin, saya menggendong dan membacakan dongeng “cindelaras”, sebuah dongeng yang amat disukainya.
Mengantarkan anak menjadi mandiri, begitu indah dan menyenangkan. Saya sungguh bersyukur, Allah SWT menganugerahkan seorang anak yang dalam waktu yang tepat, dapat membuat suatu keputusan yang bermakna bagi hidupnya sendiri. Hanief berhasil menjadikan hidupnya lebih bermakna. Oleh pimpinan perusahaan dan pelanggannya, hasil karyanya dinilai tidak mengecewakan. Inilah hasil suatu riset, yang obyeknya adalah saya dan anak saya, tentang bagaimana menikmati peran sebagai ibu dan menjadikan peran tersebut sebagai sesuatu menyenangkan. Hari-hari menjadi ibu, akan menjadi pengalaman yang begitu indah dan menyenangkan apabila kita sebagai ibu bersedia:
1. selalu melibatkan Tuhan. Mengapa ? Karena Tuhan adalah satu-satunya dzat yang “Maha memiliki Kesanggupan”. Ketika kita sedang tak sanggup mendampingi anak-anak (karena pekerjaan atau hal lain), Tuhan “sanggup” melakukannya.
2. berguru kepada apa dan siapa saja. Berguru kepada apa dan siapa saja adalah berguru kepada Al- Kitab, buku-buku bacaan dan seluruh makhluk Allah. Berguru kepada apa dan siapa saja, akan menumbuhkan rasa saling cinta, saling kasih dan saling sayang antara anak dengan orang tua. Ketika kolam ikan depan rumah saya tidak saya tutupi dengan kawat ram, pada hari saya sedang bekerja di luar rumah, kucing datang memangsanya satu per satu. Ini mengajarkan kepada saya tentang bagaimana kita bisa “saling melindungi”.
3. memandikan dan menidurkan anak, hingga anak mampu melakukannya sendiri. Sesibuk apapun kita, menyerahkan kepada pembantu/suster hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan terindah. Saya bahagia luar biasa, ketika Hanief kecil selalu merindukan kapan tiba waktunya harus mandi sambil menyanyikan lagu ciptaan saya sendiri (yang sebetulnya asal bunyi saja tapi rutin saya nyanyikan bersamanya). Saat saya keramasi dia, saya menyanyi...ini rambut atau hair nya.....saat saya sabun lehernya, saya menyanyi ...ini leher atau neck-nya, saat saya sabun perutnya, saya menyanyi...ini perut atau stomach-nya, bahkan saat saya sabun (maaf) alat vitalnya pun, saya menyanyi ....ini penisnya (saya tidak mengajarkan bahwa penis itu ‘burung’)..dan seterusnya, sampai seluruh anggota badan tersebutkan. Manfaatnya, disamping belajar hidup bersih, secara tak langsung, anak dapat belajar English ringan. Nah, bagaimana jika kita bekerja, berangkat pagi pulang malam ? Berangkat pagi bukan persoalan besar. Kita bisa bangun lebih pagi lagi, bangunkan anak dengan doa, nyanyian, kata-kata dan ciuman yang penuh kasih sayang. Menjelang tidur, saya sempatkan membacakan dongeng. “Dongeng malam” bisa diatur satu atau dua kali seminggu, asal rutin. Buatlah anak-anak untuk merindukan dongeng kita di akhir pekan, misalnya. Ini sungguh membahagiakan.
4. menstimulasi minat belajar anak dengan bacaan. Ini dapat dilakukan dengan meletakkan buku-buku bacaan, pada tempat-tempat yang mudah dijangkau. Melibatkan anak dalam diskusi tentang topik-topik ringan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, akan merangsang kepekaan anak terhadap persoalan-persoalan sosial.
5. mempercayai anak. Anak-anak hendaknya diberi kepercayaan mulai dini. Hal yang terkait dengan keuangan misalnya, berikan dompet kecil, yang isinya cukup untuk keperluan sehari, dua hari, tiga hari dan seterusnya secara bertahap, hingga ketika ia sampai pada usia SLTA, ia mampu mengelola pengeluarannya, minimal dalam batas waktu dua minggu pengelolaan. Namun evaluasilah kemana larinya uang saku tersebut. Dalam hal non keuangan, tiap sore kita biasakan menanyakan apa saja kegiatan yang dilakukan anak seharian. Ini akan merangsang kedekatan dan keterbukaan anak kepada kita. Tanpa terasa kita akan mengenal seluruh nama kawan-kawan dan guru-gurunya serta nama-nama personal yang berkegiatan dengannya dalam melalui hari-harinya.
6. mengarahkan dan menghargai keputusan anak. Seperti halnya kita, anak-anak memiliki hak untuk pilihan hidupnya, untuk itu hendaknya kita dapat menghargainya. Ketika Hanief ingin memasuki TK, pada usia yang belum genap lima tahun, saya menghargai keinginannya. Hari pertama, saya menuntun tangan kecilnya untuk berkenalan dengan guru dan kawan barunya, mengenali bangku dan toiletnya, memintanya mempraktekkan bagaimana cara minta ijin jika ingin pipis, memberi pesan khusus atas penggunaan uang sakunya. Selanjutnya, saya tak perlu lagi mengantarnya selama TK. Saat harus memilih antara SMA atau SMK pun, kami diskusi. Begitu ia berminat memilih SMK jurusan Teknologi Informatika (TI), saya survey beberapa sekolah yang memiliki jurusan TI. Saya masuk hingga ke dalam laboratoriumnya. Membaca brosur belumlah cukup, sebab tak jarang apa yang dikatakan brosur tak sesuai dengan aslinya. ‘Mendengarkan’ ketua jurusan berbicara soal jurusan yang dikelolanya, amatlah penting bagi kami. Selebihnya, Hanief yang memutuskan di sekolah mana dia akan belajar. Alhamdulillah, dia selesaikan SMKnya dalam waktu yang tepat dan memutuskan untuk bekerja selepas SMK. Bahkan ia merencanakan kuliah dengan biaya sendiri.
Itulah pengalaman mengantarkan Hanief kecil hingga menjadi sosok anak yang sekarang ini sedang belajar dewasa. Tentu banyak tips lain yang mungkin berbeda. Namun demikian, mudah-mudahan ini dapat memberikan warna dan inspirasi bagi pembaca yang akan dan sedang mengantarkan anak-anak menuju kemandiriannya. Amin !

Tidak ada komentar: